Sabtu, 01 September 2018

Pijakan Pertama di Baduy



  
                            *catatan: foto-foto disini di ambil dari Dokumentasi Panitia CLC 3.

Assalamualaikum Wr.Wb
Hello semua, kali ini saya mulai akan berbagi-bagi cerita petualangan saya nih, sayang sepertinya bila sering berpetualang tapi tak pernah direkam dalam sebuah cerita. Syukur-syukur banyak yang suka dengan cerita saya, apalagi bisa menginspirasi banyak orang.hmm
**
Temen-temen sudah pada tahu kan ya, salah satu suka pedalaman yang ada di Indonesia yang budaya dan tradisi nya masih sangat kental sekali. yaitu, Suku Baduy.

Suku Baduy atau disebut juga urang kanekes, berlokasi di kaki pegunungan  Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten. Berjarak sekitar 40 km dari Kota Rangkasbitung.
Perjalanan saya dimulai dari sebuah ajakan seorang dosen tempat saya berkuliah, beliau menawarkan kepada kami untuk ikut dalam Camp Leadership yang diadakan di Sekitar Suku Baduy. Pertama saya dengar kata baduy, saya sangat tertarik sekali dan dalam angan-angan saya pasti sangat unik dan menyenangkan sekali apabila saya bisa datang ke tempat itu. Setelah mendengar arahan dari beliau saya langsung sigap membuka website yang menginformasikan kegiatan tersebut. Dari pamflet yang saya baca, semua terlihat sangat menarik, karena memang saya sangat suka berkemah dan berpetualang. Dari sana saya mendapatkan informasi bahwa yang mengadakan kegiatan tersebut adalah Corps Dai Dompet Dhuafa.

Corps Dai Dompet Dhuafa (CORDOFA) merupakan salah satu program dari Divisi Social Development Direktorat Program Dompet Dhuafa (DD). Kebetulan tahun ini mereka mengadakan kembali sebuah program yakni Cordofa Leadership Camp batch 3 (CLC 3) yang merupakan lanjutan dari program yang telah diadakan ditahun-tahun belakangan.

Saya berangkat bersama teman teman yang belum saya kenal sebelumnya, karena dari kelas saya hanya saya yang bersedia untuk ikut. Namun ada beberapa juga yang saya kenal seperti Kafa dan Risti.
Kami dari gabungan UIKA Bogor, Remaja Masjid dan Komunitas yang berdekatan asal nya memutuskan berangkat menggunakan Kereta Commuter Line. Kami terbagi 2 titik kumpul. pertama ada yang berkumpul di St. Bogor dan yang kedua berkumpul di St. Bojonggede. Saya pribadi memilih kumpul di St. Bojonggede karena lebih dekat jarak nya dari rumah.

Pukul 03.00 saya berangkat dari rumah karena kami harus mengejar kereta pertama menuju Tanah Abang. Namun karena ada sedikit kendala sehingga jam yang tadinya kami sepakati menjadi mundur.
Akhirnya kami menempuh rute dari St. Bojonggede - St. Tanah Abang - St. Rangkas Bitung sekitar 3 jam lama nya.

Sekitar pukul 09.00 kami sampai di St. Rangkas Bitung, setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan sampai titik kumpul peserta CLC 3. Dari sana kami melanjutkan kembali menggunakan mobil elf yang disediakan oleh pihak panitia.

Perjalanan menuju sana sangat jauh sekali, melintasi perkotan, melewati perkampungan dari yang banyak penduduk hingga perkampungan yang jarang sekali pemukiman penduduk. Jalan yang ditempuh pun penuh dengan tanjakan, turunan, belokan hingga pinggir-pingir jurang yang curam. Kami dibawa jauh sekali dari pusat keramaian kota. Mengelilingi daerah-daerah hutan yang masih sangat banyak disana. Tetapi saya sangat menikmati perjalanan itu.

Hingga sampai pada akhirnya penghujung kampung yang merupakan perbatasan antara Kampung biasa dengan Kawasan Suku Baduy Luar.


Beginilah potret  para lelaki orang Kanekes Suku Baduy Luar.
Mereka masih menerapkan aturan-aturan adat yang berlaku disana, untuk tidak mengikuti perkembangan zaman yang ada. Mereka dituntut patuh atas hukum adat nenek moyang yang telah di mawirisi turun temurun. Semua pada umumnya menggunakan pakaian serba hitam ataupun putih. Mereka tidak beralas kaki. Bekerja dengan berladang dan sangat sedikit sekali berbicara. Bahkan hampir tidak sama sekali saya mendengar suara mereka. Seperti nya mereka menutup diri dari orang-orang asing yang bukan merupakan bagian dari suku mereka.

Namun, orang Kanekes Suku Baduy Luar saat ini sudah lebih membuka diri dan mulai mengikuti perkembangan zaman yang ada. Kami menemukan beberapa warga yang sudah memiliki handphone dan juga motor. 


Kegiatan ini menuntut saya untuk mengikuti kegiatan selama 5 hari yang berlokasi di kampung perbatasan antara Kawasan Baduy Luar dan Kampung biasa. Kami tinggal dan tidur di sebuah tenda tentara. Hari 1 sampai 3 waktu kami dihabiskan untuk mendengarkan materi-materi yang berkaitan tentang kepemimpian serta materi-materi keagamaan. Peserta, panitia serta pemberi materi merupakan orang-orang terpilih yang sanggat luar biasa.  Mereka orang-orang berkepribadian dan berakhlak baik. Agama nya sangat bagus dan hubungan sosial mereka juga tak kalah keren. Peserta yang rata-rata merupakan aktivis dakwah dan kemanusian yang menghabiskan waktunya untuk terus menyuarai Islam.

Pada kegiatan ini kami diarahkan untuk menjadi sosok Dai Muda yang dapat menjadi teladan serta bermanfaat membantu banyak orang. Menjadi pribadi muslim yang kuat akan rintangan serta tantangan zaman. Membela kebenaran serta terus membawa kebaikan ke seluruh penjuru bumi. Seperti tombak semangat nya “Meretas Dakwah, Melewati Batas”. 


Foto diatas merupakan urang Kanekes yang sedang berada di atas jembatan penghubung antara Kampung Biasa dengan Kawasan Baduy Luar.
Urang Kanekes Baduy Luar berbicara menggunakan bahasa Sunda karena memang lokasi nya yang masih berada di tanah sunda. Mereka sangat menjaga alam yang ada dikawasan nya. Mereka dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berladang padi dengan cara mengairi cukup dengan air hujan, berkebun durian serta berbagai jenis buah lainnya, dan Baduy juga terkenal dengan madu asli nya. Mereka biasa menjual keluar  dari daerah nya seperti pasar dan juga pergi menjual ke kota.

Para perempuan urang kanekes dapat menenun kain. Kain yang dihasilkan digunakan untuk dirinya sendiri dan juga di jual. Disana juga terkenal dengan kain batik berwarna hitam biru seperti yang mereka pakai pada foto diatas.


Dihari ke 4 setelah semua materi telah disampaikan dan outbound telah dilakukan. Setelah Ashar kami mulai untuk mendaki ke atas menuju pemukiman-pemukiman Kawasan Suku Baduy Luar. Jalan-jalan yang dilalui cukup terjal, perbukitan terus menerus menuntut untuk terus mendaki. Kami dibagi kedalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 1 kelompok putri, 1 kelompok putra, beberapa panitia dan 1 urang Kanekes yang akan menunjukan kami jalan.

Pemandangan disana masih sangat asri, kami melewati lereng perbukitan padi, kebun-kebun serta jurang-jurang yang cukup membuat kami kelelahan. Tak dapat dibayangkan orang-orang baduy telah terbiasa untuk berjalan berkilo-kilo meter dengan tidak menggunakan alas dan pada malam hari tak ada satupun lampu.

Alhamdulillah saya dapat melewati semua nya, meski tas yang dibawa sangat berat berisi 1 liter air, 5 liter beras, pakaian serta perlengkapan yang lain. Saya cukup kesulitan berjalan karena menggunakan sepatu safety yang kebesaran milik ayah saya, hehe. Namun meski menggunakan rok panjang saya tidak terlalu kesulitan dan tidak mengganggu sama sekali karena itupun dibantu dengan menggunakan celana panjang, hehe.

Perjalan panjang dimulai, lelah letih lesu laper dan teman-teman nya sangat terasa saat itu. Akan tetapi jiwa semangat serta pantang menyerah kami tetap terus melanjutinya. Malam datang dan kami hanya dibantu oleh senter milik kami masing-masing (saya ga pake, alhasil disenterin panitia, hehe makasih).

Damai sekali selama perjalanan, hanya suara jangkrik dan kodok yang sedang bernyanyi. Diselimuti awan gelap serta bintang gemintang terang dalam jumlah banyak yang terlukis indah sekali.
Oiya, jangan kalian kira saya bisa bebas foto-foto ya, itu tidak sama sekali karena ini merupakan kegiatan kepemimpinan yang melatih mental, riwa, raga dan emosi lainnya. Selama mengikuti kegiatan ini kami sama sekali tidak boleh menggunakan handphone, hp kami semua disita beserta dompet dan seisinya. Selama 5 hari kami hanya disisakan 5 ribu rupiah.

Eh, cerita foto diatas itu ya tempat kelompok saya menginap setelah sampai di desa tujuan jam 10 malam. Dirumah itu lah kami tidur dan memasak untuk 1 malam. Iya 1 malam aja sedih sekali, kurang puas, huhuu L
Ibu dan bapak nya sangat baik sekali, mereka mempunyai 2 putri yang sangat cantik (orang baduy emang cantik-cantik lho!) . Itu rumah panggung yang cukup luas, karena ini Baduy Luar jadi mereka tidak terlalu terikat dengan hukum adat sehingga mereka sudah dapat meniru peradaban di luar mereka. Lihat saja rumah nya sudah cukup modern ya? Seperti di beberapa daerah. Keluarga ini juga menjual beberapa kebutuhan pokok dan jajanan. Masak masih menggunakan tungku dan kamar mandi sudah di dalam (Alhamdulillah ga repot). Ada juga 1 buah lampu kecil dan si bapak juga punya Hp, tapi hp yang bisa sms dan telpon aja belom bisa We’a.

Ini peserta CLC 3 di sekitar pemukiman Suku Baduy Luar tempat menginap.

Kalo ini temen-temen 1 kelompok saya, Khadijah Masa Kini namanya. Ini di sekitar gazebo tempat berkunjung untuk wisata.

Dan Alhamdulillah 4 hari telah dilalui, ini adalah hari terakhir di tempat terakhir mendarat pula dari petulangan kawasan Suku Baduy Luar. Kami tiba disebuah sekolah. Aah andai anak-anak baduy dapat sekolah. Hm, jadi ini sudah diluar baduy ya. Ini sudah dekat pasar, sudah banyak kehidupan disana.

Sungguh tak terasa, masih sangat ingin berada disana, bercengkrama dengan penduduk, bercerita dengan anak-anak, memasak, berpetualang dan beribadah bersama.

Ahh, 02-06 Maret 2018 telah usai. Sudah waktu nya kembali. Terimakasih Baduy, Cordofa, Dompet Dhuafa, Panitia dan yang lainnya. Semoga dapat berkunjung kembali kesana dan saya dapat mengamalkan ilmu-ilmu yang didapat. Aamiin..